Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 17 Mei 2012 | 04:38 WIB
Permintaan Sapi dan Kerbau Menurun di Jambi
Irma Tambunan | Senin, 8 Desember 2008 | 16:24 WIB
|
Share:

TPG IMAGES

JAMBI, SENIN - Tingkat permintaan sapi dan kerbau di Kota Jambi pada perayaan Idul Adha tahun ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini diperkirakan akibat krisis ekonomi dan naiknya harga hewan kurban di pasaran.

Kasubdin Peternakan Dinas Pertanian Kota Jambi Said Abubakar mengatakan permintaan masyarakat terhadap sapi yang semula diprediksi mencapai 890 ekor, ternyata baru terserap 850 ekor hingga berlangsungnya Idul Adha. Permintaan terhadap kerbau juga hanya mencapai dua ekor, dari prediksi terjual 20 ekor.  

"Kami memperkirakan turunnya tingkat penjualan hewan kurban disebabkan kondisi ekonomi krisis di berbagai tempat," ujar Said, Senin (8/12).

Ia melanjutkan, harga sapi naik rata-rata Rp 1 juta per ekor dalam setahun ini. Sapi jenis Bali misalnya yang mencapai Rp 5 juta-Rp 6 juta pada tahun lalu, kini menjadi Rp 7 juta-Rp 8 juta per ekor.

Sedangkan permintaan kambing sedikit meningkat pada tahun ini. Penjualan mencapai 550 ekor pada tahun lalu, sekarang meningkat jadi 600 ekor.

Tim petugas peternakan memantau kondisi hewan kurban sejak 6 Desember lalu. Petugas mendatangi tempat-tempat penjualan kurban, dan mengecek kesehatan hewan. "Kami memeriksa setiap hewan kurban, supaya hanya yang terbebas dari ant hraks dan sejumlah penyakit lainnya, yang aman dikonsumsi masyarakat," tuturnya.

Pemeriksaan ini penting, menurutnya, supaya tidak terjadi penularan penyakit dari hewan pada manusia. Banyak hewan didatangkan tidak hanya dari luar Kota Jambi, namun 50 persen kebutuhan Jambi justru dipenu hi oleh pasokan hewan asal Lampung dan Palembang.

Seluruh hewan yang masuk ke Kota Jambi akan terlebih dahulu menjalani pemeriksaan oleh petugas. Menurut Said, dari 750 sapi dan 1.200 kambing yang diperiksa petugas, tak satu pun dinyatakan mengidap penyak it berbahaya. Dengan demikian seluruh hewan kurban yang beredar saat ini dinyatakan aman dikonsumsi manusia.

Begitu pula pada Idul Adha kemarin, petugas kembali mendatangi tempat-tempat penyembelihan, untuk memastikan seluruh hewan dalam kondisi baik sebelum dikonsumsi. "Kalau ditemukan kondisi hewan yang mencurigakan kesehatannya, kami mengambil sampel dagingnya untuk diperiksa di laboratorium," tuturnya.