Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 17 Mei 2012 | 04:37 WIB
Setia pada Tradisi
| Sabtu, 6 Desember 2008 | 16:02 WIB
|
Share:

Kompas/Tonny D Widiastono
Paduan Suara Universitas Katolik Parahyangan Bandung.

JAKARTA, SABTU--Hampir semua perguruan tinggi di Indonesia memiliki unit kegiatan yang bergiat dalam paduan suara. Namun, sedikit paduan suara mahasiswa yang setia dengan kegiatannya, berlatih, berlatih, dan pentas. Salah satu dari yang sedikit itu adalah Paduan Suara Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (PSM Unpar), Bandung.

Untuk menutup kegiatan tahun 2008, PSM Unpar menggelar Konser Natal bertajuk ”Magical Christmas” di Usmar Ismail Concert Hall-Jakarta pada 30 November, serta di Gedung Serba Guna Unpar-Bandung pada 2 Desember 2008

Mengawali pergelaran, Antonius Dody Soetanto, sang konduktor, menyuguhkan Beata Viscera karya William Byrd, disusul Canite Tuba (Palestrina); Verbum Caro Factum Est (Hans Leo Hassler); Das Wort ward Fleisch (Heinrich Schutz), serta Magnificat (Tomasso Albinoni).

Ihwal Magnificat, agaknya menjadi suguhan paling menarik pada sesi pertama. Diiringi orkes kecil, greget yang disajikan oleh semua peserta membuat karya komponis Italia (1674-1745) ini terasa hidup dan amat indah. Bentuk canon yang ada di bagian akhir lagu benar-benar disajikan amat indah.

Jazzy

Seusai jeda, Dody Soetanto masih menyuguhkan beberapa karya klasik—Quem Pastores Laudavere; Il est né (le divin enfant); Un flambeau, Jeannette, Isabelle; Shepherd’s Pipe Carol—sebelum menutup pergelaran dengan sejumlah lagu gospel bergaya jazzy seperti And is it True; Who is The Baby?; I’ll Be Home for Christmas; Jazzy Saint Nick; Winter Wonderland; serta dua lagu imbuhan Walking in the Air (Howard Blake) serta Merry Christmas Everybody (Noddy Holder and James Lea).

Suguhan terakhir agaknya benar-benar membuat penonton yang kebanyakan mahasiswa dan anak-anak muda menikmati. Irama jazzy, suasana ceria, ditingkah tepuk tangan, membuat lagu-lagu gospel ini langsung merasuk ke kalbu penonton.

Pergelaran PSM yang menyuguhkan suasana segar tidak hanya terjadi satu dua kali ini. Sesuai dengan semangat anggotanya yang umumnya muda, unit kegiatan mahasiswa yang didirikan tahun 1962 ini selalu terasa ceria. Selain itu, unit kegiatan ini membuat suasana pendidikan yang diemban Unpar menjadi lengkap. Mahasiswa tidak hanya diasah otaknya, tetapi juga diajak untuk berolah rasa, membentuk harmoni. Dan harmoni bisa disebut sebagai salah satu tujuan pendidikan yang sudah menjadi tradisi. Boleh jadi, PSM Unpar menjadi salah satu kegiatan yang menjadi jiwa Unpar agar selalu setia pada tradisi. (ton)

Sumber :
Kompas Cetak