Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 17 Mei 2012 | 04:33 WIB
Software Terjangkau untuk UKM di Bali
Ayu Sulistyowati | Kamis, 27 November 2008 | 17:23 WIB
|
Share:

DENPASAR, KAMIS - Mengapa usaha kecil menengah (UKM) malas berurusan dengan investasi bidang teknologi informasi untuk pengembangan usahanya? Karena, mahal dan kendala sumber daya manusianya! Itu mungkin menjadi jawaban klasik.

Bagaimana agar tak lagi mahal jadi penghalang kemajuan UKM? Putu Sudiarta, Direktur PT Bamboomedia Cipta Persada mengeluarkan produk-produk software yang dinilai terjangkau dengan harga kurang dari Rp 100.000.

"Menggunakan teknologi informasi seperti software dalam kegiatan usaha mendorong kinerja UKM . Bahkan selama dua tahun berjalan, software kami mampu meningkatkan efisiensi usaha sampai 60 persen," kata Putu Sudiarta, Direktur PT Bamboomedia Cipta Persada.

Perusahaan teknologi informasi lokal Bali milik Putu Sudiarta ini pun berlanjut mendaftar menjadi anggota Business Software Alliance (BSA) Indonesia pada 1 Juli 2008. Ia memang khusus menyasar kalangan UKM, program games, e-learning, dan lain-lain. Sebagian besar produknya masih difokuskan ke pasar domestik, antara lain lewat jaringan toko buku Gramedia dan Gunung Agung. Pada tahun ini, Bamboomedia mendapat penghargaan ICT Award dan E-Learning Award.

Menurut Putu Sudiarta, selama beroperasi 5 tahun, ada sekitar 25.000 usaha yang menjadi konsumen Bambomedia. Mereka mengaku merasakan benefitnya sejak menggunakan produk software Bamboomedia. Pertama, mereka mengaku efisiensi usaha meningkat. Kedua, program software tersebut membantu mereka m embuat sistem usaha yang lebih rapi, sekaligus mempermudah kegiatan usahanya.

"Dengan menggunakan software, mereka dengan mudah bisa mengetahui produk mana yang paling laku atau yang tidak. Ini memudahkan mereka menyusun program pengembangan pasar/produk ke depan," ujar Putu.

Produk Bamboomedia yang memiliki filosofi produk simple, flexible, and high performance, lanjut dia, merupakan produk software lokal yang bersifat low cost product, tapi menjanjikan performance yang tinggi.

Namun ia sedih dengan banyaknya produk bajakan miliknya yang dijual dengan harga kurang dari Rp 30.000. "Kami sedih sekali karena tindakan pembajakan ini mematikan kreator dan industri software itu sendiri. Ini alasan lain kami bergabung ke BSA, agar pembajakan bisa turun, kata Putu yang memprediksi, dari 25.000 konsumen resmi Bamboomedia, angka pembajakannya bisa 3-4 kali lipat dari jumlah itu," kata Putu.

Roland Chan, Direktur PR dan Marketing BSA Asia, menjelaskan, dengan bergabungnya Bamboomedia ke BSA Indonesia, kini kami memiliki tiga anggota perusahaan lokal, dua lainnya yakni PT Andal Software Sejahtera, pengembang software bisnis seperti payroll, PPH 21, dan human resources dan PT Zahir Internasional, juga pengembang software bisnis seperti program akuntansi.

Menurut Roland Chan, para perusahaan software kini menyadari bahwa keanggotaan BSA Indonesia terbuka bagi perusahaan lokal yang memiliki visi dan misi yang sama dengan BSA. "Pembajakan software adalah permasalahan yang perlu diatasi secara berkelanjutan karena mengancam keberadaan perusahaan pengembang software seperti anggota-anggota kami," katanya.

Saat ini Indonesia hanya memiliki sekitar 10-15 perusahaan di sektor TI yang secara khusus bergerak di produk software. Angka ini jauh lebih rendah dari Korea Selatan yang mempunyai sekitar 200.000 produsen software. Sebab banyak produsen software bersifat individu, bukan hanya perusahaan.

Mengacu pada laporan International Data corporation (IDC) 2007, sebanyak 84 persen program software di komputer di Indonesia tidak berlisensi alias bajakan. Angka ini hanya turun 1 persendari 2006 yang mencapai 85 persen. Dengan demikian Indonesia keluar dari 10 besar negara denga n angka pembajakan tinggi di dunia. Akibat tindakan pembajakan tersebut, potensi kerugian yang diderita industri software Indonesia 411 juta dollar AS atau Rp 3,8 triliun.

Menurut Roland, dibandingkan kawasan lain di dunia, angka pembajakan di Asia Pasifik rata-rata tingi dan meningkat pada level 90 persen. Sementara di kawasan lain angkanya justru turun seperti Eropa. Pendorong kenaikan angka itu berasal dari beberapa negara kecil di Asia Pasifik. Di Asia Pasifik, industri ini mencakup 348.000 perusahaan dengan pasar 230 miliar dollar AS dan 5,5 juta pekerja. Sedangkan di Indonesia sendiri bisnis ini senilai 3,3 miliar dollar AS dan 28.500 pekerja.

Perwakilan BSA Indonesia Donny A. Sheyoputra menambahkan, kesadaran hak cipta memang masih kurang di negara-negara berkembang. Pembajakan kian tinggi lantaran sikap acuh terhadap konsekuensi hukum akibat tindakan pelanggaran hak cipta dan faktor penegakan hukum.