Thailand menjuluki dirinya sebagai ”Land of Smiles” atau Negeri Senyuman. Slogan itu, disertai tawaran keindahan alam dan keramahan warganya, terbukti mampu menarik hingga 15 juta wisatawan per tahun ke negara itu.
Sayang ”senyuman” itu berangsur lenyap dari wajah Thailand dalam enam bulan terakhir. Krisis politik yang melanda negara itu terus memburuk. Puncaknya, ribuan orang dari Aliansi Rakyat untuk Demokrasi (PAD) menduduki Bandar Udara Internasional Suvarnabhumi, Selasa (25/11) malam. Otoritas menutup bandara utama Thailand itu sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
”Kami semua datang ke Thailand karena kami mencintai Thailand. Akan tetapi, ini meninggalkan kenangan buruk,” kata Jean McCartan, turis asal Inggris.
Dia bersama ribuan orang lainnya yang lapar, haus, dan lelah terjebak di Bandara Suvarnabhumi tanpa kejelasan nasib. ”Tidak ada yang memberi tahu kami apa yang terjadi. Saya kira semua orang marah karenanya,” ujar McCartan.
Polisi bandara hanya berdiri pasif melihat kerumunan pemrotes yang hilir mudik di terminal penumpang. ”Seharusnya polisi tidak membiarkan ini terjadi,” kata John Russell, turis asal Inggris.
Merusak citra
Tayangan di televisi memperlihatkan kerumunan penumpang yang kebingungan. Mereka terpaksa tiduran di ban berjalan untuk bagasi, di bangku, atau di lantai.
Tayangan yang disiarkan sejumlah media di dunia itu akan merusak citra dan pasar wisata Thailand di luar negeri. ”Orang asing telah kehilangan kepercayaan mereka untuk bepergian ke Thailand. Mereka khawatir dengan keselamatan mereka,” kata Apichart Sankary, Presiden Asosiasi Agen Perjalanan Thailand.
Selama enam bulan terakhir, saat pemrotes antipemerintah memulai aksinya, pariwisata Thailand hampir tidak terpengaruh. ”Semua berubah semalam,” kata Dalw Lawrence, Direktur Asosiasi Perjalanan Asia Pasifik.
Tiap tahun miliaran dollar AS mengalir ke Thailand berkat pariwisata. Tahun 2007 sebanyak 14,8 juta wisatawan mengunjungi Negeri Gajah Putih itu. Apichart mengatakan, dengan kondisi sekarang, tidak mungkin target 17 miliar dollar AS yang ditetapkan Otoritas Turisme Thailand tahun ini tercapai.
Industri pariwisata Thailand telah terpukul akibat krisis finansial global. Pada Agustus 2008, jumlah penumpang asing yang tiba di Bandara Suvarnabhumi turun 600.000 orang atau 33 persen dibandingkan dengan Agustus 2007. Penurunan juga terjadi pada September 2008 sebanyak 21 persen dibandingkan dengan September 2007.
Tingkat hunian hotel pun turun drastis. Pada September, tingkat hunian hotel hanya 46,3 persen, turun dibandingkan dengan pada Agustus yang mencapai 57,5 persen.
Stasiun televisi CNN menyebutkan, Thailand mungkin kehilangan 40 persen pemasukan dari turisme akibat krisis politik berkepanjangan.
Keterlaluan
Ribuan penumpang pun hanya bisa pasrah dan menunggu kejelasan nasib mereka. Liburan yang seharusnya menyenangkan berakhir mengecewakan.
”Saya bisa paham bahwa orang-orang ini menginginkan perubahan. Akan tetapi, menutup bandara karena alasan itu sedikit keterlaluan dan tidak akan membantu negara ini,” kata Gary Biermann, turis asal AS, yang hendak pulang untuk merayakan Thanksgiving.
”Saya hanya ingin pulang. Saya menikmati saat yang menyenangkan di sini, tetapi situasi ini benar-benar mengecewakan,” tutur Jason Walsh, turis asal Kanada, di tengah teriakan para pemrotes. Senyum Walsh sirna....
