Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 17 Mei 2012 | 04:31 WIB
Presiden: Pertemuan G-20 Belum Akan Selesaikan Krisis
Glori K. Wadrianto | Minggu, 16 November 2008 | 10:58 WIB
|
Share:

Bradley Kanaris/Getty Images
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

WASHINGTON DC, MINGGU — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, pertemuan pemimpin negara anggota G-20 yang berlangsung di Washington, Sabtu (15/11), belum akan menyelesaikan persoalan krisis keuangan yang sedang melanda dunia.

"Pertemuan puncak G-20 ini dirancang bukan untuk menyelesaikan semua hal. Mungkin perlu satu atau dua pertemuan puncak untuk memikirkan semuanya dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi dunia saat ini," kata Presiden dalam jumpa pers dengan media massa dari Indonesia di Hotel Ritz Carlton Washington DC, Sabtu.

Meski begitu, kata Presiden, pertemuan puncak G-20 ini sangat diperlukan untuk mencari jalan bersama dan mengintegrasikan langkah-langkah mengatasi krisis keuangan tiap negara. "Upaya regional dan global tetap penting untuk mencari jalan keluar terhadap krisis keuangan yang terjadi," katanya.

Presiden juga mengatakan untuk tidak berharap banyak terhadap kesepakatan dunia dalam mengatasi krisis ini. Namun, pertemuan G-20 memberikan kepastian mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan. "Komitmen dari para pemimpin yang ada dalam forum G-20 cukup kuat untuk bersama-sama dikelola. Semua juga menyatakan kesanggupan untuk melakukan apa yang harus dilakukan segera. Saya menilai, pertemuan puncak ini memiliki manfaat yang riil untuk satu kerja sama global mengatasi masalah ini," katanya.

Mengenai usulan Indonesia untuk dibentuk Global Expenditure Support Fund, menurut Presiden, bisa diterima oleh para peserta dan dimasukkan dalam poin-poin pada deklarasi yang dikeluarkan. "Mengenai mekanismenya seperti apa, kita terus matangkan pelaksanaannya dan berapa banyak. Jadi, tidak perlu menunggu pertemuan puncak berikutnya untuk lembaga multilateral menghimpun dana dari negara-negara tertentu yang mengalami surplus," katanya.

Presiden juga mengusulkan agar dibentuk sebuah paket stimulus global untuk menjaga agar pertumbuhan ekonomi dunia tidak terus merosot. "Mengenai stimulus untuk menjaga pertumbuhan, Indonesia berpendapat tidak bisa diberikan sendiri-sendiri karena berbedanya kemampuan keuangan masing-masing negara. Perlu ada satu global stimulus package untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan ini menjadi kepedulian dunia dan banyak pemimpin yang setuju dengan hal ini," katanya.

Mengenai upaya mengatasi dampak krisis yang terjadi di Tanah Air, Presiden menilai, yang paling efektif adalah dengan menggunakan kekuatan atau kemampuan sendiri. "Menggunakan kemampuan domestik, menggunakan resourses kita sendiri, sumber dana sendiri. Sumber daya kita masih besar, misalnya cadangan devisa," kata Presiden.

Hadir dalam jumpa pers itu, Menlu Hassan Wirajuda, Mendag Mari Pangestu, Mensesneg Hatta Rajasa, Ketua DPD Ginandjar Kartasasmita, dan Ketua Komisi I Theo L Sambuaga.

Sumber :
Antara