Oleh : Luki Aulia
Pantang menyerah. Begitu prinsip yang dianut Taro Aso (68). Tiga kali berturut-turut gagal merebut kursi kepemimpinan Partai Demokrat Liberal (LDP) tidak membuatnya patah arang. Ketika Yasuo Fukuda memutuskan mundur dari posisi Perdana Menteri Jepang sekaligus Ketua LDP, awal September, Aso kembali mengikuti pemilihan Ketua LDP dan akhirnya terpilih.
Terpilih sebagai Ketua LDP, Aso otomatis menjadi PM Jepang karena LDP menguasai Majelis Rendah. Parlemen menetapkan Aso sebagai PM setelah menolak keberatan dari Majelis Tinggi, Rabu (24/9). Sesuai konstitusi Jepang, Majelis Rendah berhak menolak keberatan Majelis Tinggi dan membuat keputusan jika kedua majelis itu sulit mencapai kata mufakat tentang suatu persoalan.
Kesabaran Aso membawa hasil. Setelah kalah dari Junichiro Koizumi pada 2001, Aso kembali menelan pil pahit karena kalah dari Shinzo Abe pada 2006. Ketika satu tahun kemudian Abe mundur, Aso yakin ini kesempatan emas baginya. Namun, ia lagi-lagi gagal. LDP ternyata memilih Yasuo Fukuda yang dinilai lebih santun dibandingkan dengan Aso yang dikenal keras dan berlidah ”tajam”.
Ketika Fukuda mundur seperti Abe, 1 September, Aso buruburu mengajukan diri lagi. LDP yang kelimpungan karena tiba-tiba ditinggalkan Fukuda memilih Aso yang diharapkan akan bisa memperbaiki citra LDP dan menarik minat masyarakat kembali untuk memilih LDP. Gaya Aso berbeda dibandingkan dengan Abe dan Fukuda.
Abe penganut nasionalis ideologis yang harus lengser karena digoyang berbagai skandal dan sakit-sakitan. Sementara itu, Fukuda yang selalu berwajah murung dan tampak lelah akhirnya tidak tahan menghadapi perlawanan oposisi dan memilih mundur.
Aso berbeda. Ia penganut Katolik-Roma, minoritas (2,04 persen) 127,3 juta warga Jepang yang mayoritas penganut Shinto dan Buddha. Aso merokok cerutu Kuba, suka baca komik Jepang manga, dan mengenakan kalung emas. Ia punya reputasi kerap mengeluarkan pernyataan kasar dan keras tanpa tedeng aling-aling.
”Saya mewujudkan keinginan Tuhan. Orang-orang biasa mungkin tak akan pernah tahu seseorang yang terlahir sangat kaya bisa juga menderita dan harus susah payah berjuang,” katanya.
Seperti kebanyakan pemimpin politik Jepang, Aso yang lahir di Iizuka, Fukuoka, 20 September 1940, itu datang dari keluarga politikus dan pengusaha kaya. Kakeknya, Shigeru Yoshida, adalah PM ternama dan berpengaruh karena berhasil membangun Jepang yang porak-poranda akibat Perang Dunia II. Sementara itu, ayahnya, Takakichi Aso, menjabat Direktur Aso Cement Company dan teman dekat PM Kakuei Tanaka.
Aso terkait dengan keluarga kerajaan karena adiknya, Nobuko, adalah istri Pangeran Tomohito dari Mikasa, saudara sepupu Raja Akihito. Istri Aso adalah putri ketiga mantan PM Zenko Suzuki. Aso yang selalu berpakaian necis itu dianggap ”kebarat-baratan”. Banyak yang menduga ini akibat pengaruh pendidikan Aso saat ia kuliah di Stanford University, AS, setelah lulus dari Fakultas Ilmu Politik dan Ekonomi Gakushuin University pada 1963.
Belum selesai kuliah di Stanford, Aso diminta pulang oleh keluarganya yang khawatir Aso menjadi ”terlalu Amerika”. Meski memiliki rumah bak puri di salah satu kawasan mewah Tokyo, Aso tidak betah dan memutuskan kuliah lagi di London School of Economics, Inggris. Selesai kuliah, Aso bekerja di pertambangan intan di Sierra Leone selama dua tahun. Namun, ia segera pulang karena perang saudara.
Aso bergabung di perusahaan ayahnya pada 1966 dan menjadi Direktur Pertambangan Aso pada 1973-1979. Di sela-sela usahanya, Aso pernah mewakili Jepang dalam Olimpiade Montreal 1976 untuk cabang menembak nomor skeet (tembak target).
Aso terpilih menjadi anggota Majelis Rendah, Oktober 1979. Sejak itu ia terpilih delapan kali. Pada 1988 Aso menjadi Wakil Menteri Parlemen Bidang Pendidikan. Aso kemudian bergabung dengan kabinet Koizumi (2003) dan menjadi Menteri Urusan Dalam Negeri, Pos, dan Komunikasi. Sejak 31 Oktober 2005 hingga 2007, ia menjabat Menteri Luar Negeri pada era kepemimpinan Koizumi dan Abe. Sejak Agustus 2008 pula Aso dipilih oleh Fukuda untuk menjadi Sekretaris Jenderal LDP.
”Diplomasi manga”
Untuk menghapus citra kasar dan keras, Aso lantas membentuk citra dirinya sebagai kutu buku dan ”orangtua keren dan gaul” yang mengerti dunia anak muda. Salah satu caranya dengan menunjukkan kecintaannya pada komik manga yang juga digandrungi anak-anak dan remaja. Aso sering meminta keluarganya mengirimi komik manga saat ia kuliah di AS. Aso mengaku membaca 10-20 komik manga setiap pekan. Ketika menjabat menteri luar negeri, Aso memberikan penghargaan internasional bagi kartunis manga non-Jepang.
Berkat ”diplomasi manga” ini Aso populer di kalangan anak muda. Bahkan, di kalangan fans manga Aso dijuluki ”Rozen Aso” karena suatu kali ia pernah terlihat membaca komik manga Rozen Maiden di Bandara Internasional Tokyo. Informasi ini beredar di internet, kisaran tahun 2006. Popularitas Aso naik terutama di kalangan anak muda. Potensi ini yang memantapkan tekad LDP untuk memilih Aso menjadi PM.
Selain bacaan ringan, Aso juga menulis dua buku ”serius” berisi pandangan-pandangan politiknya. Bahkan, bukunya yang berjudul Tremendous Japan masuk kategori best seller. Dalam bukunya ia mempromosikan berbagai potensi Jepang dan mengusulkan membantu demokratisasi dan perkembangan Eropa Timur dan Asia. Banyak yang khawatir Aso hendak mengisolasi China dan Rusia.
Meski bergaya muda dan modern, Aso justru dikenal memiliki pandangan konservatif. Salah satunya, ia menolak perubahan dalam undang-undang yang akan memperbolehkan perempuan menjadi penerus takhta Kerajaan Jepang.
Lidah tajam
Ada poin yang harus diingat Aso. Para pengamat mengingatkan, Aso tiga kali kalah dalam pemilihan Ketua LDP karena masalah sikap. Ia dianggap kurang ajar dan kasar karena lidah ”tajam”-nya hingga menyakitkan perasaan banyak orang. Pernyataan pedas kerap menimbulkan persoalan baginya. Ia kerap kali harus minta maaf atas pernyataannya yang kontroversial.
Seperti saat ia memakai isu penyakit alzheimer sebagai bahan lelucon. Padahal, isu ini sensitif bagi orang-orang tua di Jepang. Atau saat ia menyinggung isu bencana banjir dengan menyatakan ”untung saja kotakota besar” tidak terkena banjir.
Aso juga pernah dipaksa segera minta maaf saat ia menyamakan partai oposisi di Jepang dengan Nazi. Pernyataan lain Aso yang mencengangkan adalah ketika ia menyatakan ”negeri yang ideal adalah negeri yang bisa menarik perhatian orang Yahudi yang paling kaya”.
Tak hanya itu. Aso juga pernah memuji masa kolonialisme Jepang di Semenanjung Korea pada 1919-1945, yang kemudian membuat marah Korea Selatan dan Korea Utara sekaligus. Aso juga pernah mengkritik kebijakan AS di Irak pada 2007 dengan menyatakan, Jepang yang ”berwajah kuning” akan lebih berhasil berdiplomasi di Timur Tengah daripada Barat yang punya ”rambut pirang dan mata biru” karena Jepang tak pernah mengeksploitasi kawasan itu.


