PONTIANAK, SABTU- Sejumlah masyarakat Kalimantan Barat yang tinggal di perbatasan Sarawak, menyambut HUT ke-63 dengan memohon pengakuan dari pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Bahwa kami layak menjadi warga yang mempunyai hak yang sama dengan warga di ibukota, baik kabupaten, provinsi, dan negara," kata Imran, Kepala Desa Suruh Tembawang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, saat dihubungi dari Pontianak, Sabtu.
Menurut Imran, warga mengharapkan adanya pemberian hak seperti layanan pendidikan, kesehatan, transportasi serta telekomunikasi yang layak dan memadai.
"Akses-akses lainnya yang berkaitan dengan layanan publik seperti air bersih dan listrik," kata Imran.
Ia menambahkan, meski sudah 63 tahun Indonesia merdeka, namun mereka belum merasakan arti seratus persen sebuah kemerdekaan. "Kebijakan di daerah tertinggal masih tidak jelas. Apalagi kelangkaan BBM dan jalur air kian mahal dan tidak menentu," kata Imran.
Untuk 17 Agustus kali ini, mereka mendapat bendera merah putih dari kepolisian sektor Entikong. Bendera tersebut berkibar hingga dusun Gun Tembawang yang berbatasan dengan Gun Sapit, Sarawak.
"Kami masih dan sangat menghargai pemberian bendera. Dan selalu bersyukur masih ada NKRI, tetapi kami juga mohon pengakuan dari NKRI," katanya menegaskan.
Desa Suruh Tembawang berjarak sekitar 64 kilometer dari Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Entikong. Terdiri atas delapan dusun yakni Gun Tembawang, Gun Jemak, Suruh Tembawang, Pool, Sekajang, Badat Baru, Badat Lama dan Senutul dengan total penduduk 2.745 jiwa. Sebelah timur, desa itu berbatasan dengan Sarawak, barat dengan Kabupaten Landak, Selatan Kabupaten Bengkayang, dan utara dengan Desa Pala Pasang.
Menuju pusat pemerintahan desa yakni di Dusun Suruh Tembawang bukan perkara mudah dan murah karena tidak ada sarana transportasi darat yang tersedia. Satu-satunya jalan adalah menyusuri Sungai Sekayam menuju bagian hulu dari Entikong.
Biaya satu kali keberangkatan, berkisar Rp800 ribu - Rp1 juta menggunakan perahu motor berkekuatan 15 tenaga kuda. Biaya tersebut pada waktu harga bahan bakar minyak (BBM) belum mengalami kenaikan mulai Mei 2008. Listrik mengandalkan generator set milik beberapa warga yang semakin jarang dihidupkan karena tingginya biaya bahan bakar.

