PURWOKERTO, SELASA - Dari 36 kabupaten dan kota di Jawa Tengah, Kabupaten Cilacap menempati peringkat pertama sebagai kabupaten yang memiliki daya saing investasi paling tinggi di Jawa Tengah. Dari sisi kinerja ekonomi, Kabupaten Cilacap juga menjadi primadona bagi dunia usaha.
Demikian salah satu penjelasan hasil survei iklim usaha tahun 2007 wilayah Jateng, yang dijalankan oleh German Technical Cooperation (GTC) dan ikut didukung oleh Kantor Bank Indonesia Semarang. Hasil survei itu dipresentasikan dalam Diseminasi Business Climate Survey 2007 yang diselenggarakan oleh Kantor BI Purwokerto di Hotel Dinasty Purwokerto, Selasa (12/8).
Hadir sebagai pembicara dalam acara itu adalah Deputy Regional Director BI Semarang Mahdi Mahmudi, Direktur Program MM Unsoed Agung Praptata, dan Siti Fatimah selaku pengusaha dari Cilacap. Hadir pula wakil dari GTC, Mukti Asikin selaku moder ator dalam acara tersebut.
Mahdi Mahmudi mengatakan, Kabupaten Cilacap menempati peringkat pertama di Jateng untuk iklim usaha. Hal itu antara lain karena kabupaten tersebut cukup mapan dalam infrastruktur, baik transportasi maupun komunikasi. Dari segi persepsi iklim usaha, Kabupaten Cilacap juga dinilai paling kondusif. Untuk kredit macet, Cilacap juga tergolong yang paling rendah dibandingkan kabupaten lainnya di Jawa Tengah, lanjutnya.
Tingginya daya saing Kabupaten Cilacap, menempatkan eks Karesidenan Banyumas ikut sebagai peringkat pertama dalam daya saing dunia usaha, dibandingkan eks karesidenan lainnya di Jateng.
Salah satu buktinya, setiap perusahaan di eks Karesidenan Banyumas rata-rata berencana menanamkan investasi dananya lebih dari Rp 1 miliar. Rata-rata tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata rencana investasi di Jateng yang baru mencapai Rp 316 juta.
Namun disela-sela acara diseminasi, Mahmudi mengakui, survei ini baru sebatas potret dari survei ekonomi makro yang dijalankan oleh GTC. "Kami ingin agar survei ini dapat digunakan oleh para pengambil keputusan, baik pemerintah, pengusaha, maupun politisi," ucapnya.
Seperti daya saing Kabupaten Cilacap sendiri, menurut Mukti Asikin dari GTC, baru sebatas pada investasi padat modal. Utamanya untuk minat investasi pada dunia pertambangan di Cilacap ini cukup besar, lanjutnya.
Sebaliknya masalah kemiskinan yang masih melilit 40 persen penduduk Cilacap, menurut Mahmudi, menjadi pekerjaan rumah yang harus dihadapi oleh pemerintah daerah. "Karena itu, kami menginginkan agar hasil survei ini bisa menjadi menjadi bahan diskusi untuk meningkatkan perekonomian daerah," katanya lagi.

