Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 17 Mei 2012 | 03:58 WIB
Krisis Politik Tewaskan 12 Warga Somalia
Adi Sasono | Selasa, 5 Agustus 2008 | 09:31 WIB
|
Share:

MOGADISHU, SELASA  - Dua belas orang tewas dan 18 orang lagi cedera setelah tentara Ethiopia dan pasukan pemerintah Somalia mengebom sebuah permukiman tak jauh dari ibu kota Mogadishu, Senin (4/8). Serangan ini merupakan balasan atas serangan gerilyawan terhadap pangkalan militer Somialia dan Ethiopia.

"Sepuluh warga sipil tewas dan lima-belas orang lagi cedera, setelah tentara Ethiopia dan pasukan pemerintah Somalia, yang baru dilatih, mengebom daerah permukiman Waharadde, Ad-Dala, dan Suqa Holaha di kabupaten Huruwa di kota Mogadishu," demikian laporan radio setempat, Shabelle, Selasa (5/8).
    
Beberapa saksi mata mengatakan banyak orang yang cedera telah terperangkap di rumah mereka akibat penutupan jalan yang diberlakukan di ibukota Somalia tersebut pada malam hari.   
    
Jurubicara gerilyawan Uni Pengadian Syari’ah, Sheik Abdirahim Isse Adow, mengatakan kepada wartawan bahwa pasukannya berada di belakang serangan terhadap pasukan pemerintah Somalia dan Ethiopia.
    
"Dua pejuang kami telah menjadi martir dan tiga lagi cedera dalam serangan terpadu yang kami lancarkan terhadap musuh (Ethiopia) dan antek mereka (pasukan pemerintah Somalia)," kata Adow.  

Adow mengatakan pasukannya berhasil menewaskan sejumlah personel militer pemerintah dan tentara Ethiopia. Ia tak memberi perincian. Beberapa pejabat pemerintah Somalia atau komandan militer Ethiopia di Somalia menolak mengomentari klaim kelompok pemberontak dan jatuhnya korban sipil.

Pemerintah Somalia terjebak di tengah krisis politik akibat perseteruan antara tokoh senior negeri itu yang dipicu pengunduran diri hampir dua-pertiga anggota kabinet mengenai pemecatan Wali Kota Mogadishu, sekutu dekat Presiden Abdullahi Yusuf Ahmed, oleh Perdana Menteri Somalia Nur Hassan Hussein. Wali kota tersebut menolak meletakkan jabatan dan menyatakan jabatannya dipulihkan presiden melalui surat.
    
Perdana Menteri tersebut menunjuk enam menteri baru untuk mengganti menteri pro-presiden yang mundur dari pemerintahnya dan mengatakan ia akan segera mengangkat sisanya setelah konsultasi lebih lanjut.
    
Somalia menghadapi krisis kemanusiaan akibat konflik, kemarau, dan kenaikan harga kebutuhan pokok. Sebanyak 2,6 juta orang Somalia, yang mewakili 35 persen penduduk negeri itu, diduga sangat memerlukan bantuan kemanusiaan.
    
Gerilyawan melancarkan serangan hampir-setiap-hari terhadap pemerintah peralihan dan sekuru militernya dari Ethiopia.
PBB memperkirakan bahwa sebanyak 1,5 juta orang telah menyelamatkan diri setelah pertempuran baru-baru ini. Kelompok oposisi di negeri tersebut, yang meliputi satu gerakan yang terguling dari kekuasaan pada 2006, menentang tentara Ethiopia tetap berada di Somalia.
    
Tentara Uni Afrika belum dapat memadamkan kerusuhan, yang telah memicu apa yang dikatakan pekerja bantuan sebagai krisis kemanusiaan terburuk di Afrika. Somalia tak memiliki pemerintah sejak 1991, ketika mantan presiden Mohamed Siad Barre digulingkan.

Sumber :
Ant