JAKARTA, RABU - Indonesia menjajaki perjanjian perdagangan bebas atau FTA dengan Australia, India, dan Selandia Baru setelah perjanjian serupa dengan China, ASEAN, dan Korea Selatan. "Kita memang melakukan perundingan awal dengan India, Australia, dan Selandia Baru, tapi memang sejauh ini yang paling komprehensif dengan Jepang," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu Anggito Abimanyu, seperti dikutip Antara di Jakarta, Rabu (2/7).
Menurut dia, perjanjian kerja sama dengan tiga negara itu kemungkinan hanya akan menyangkut aspek perdagangan dan tidak mencakup kerja sama ekonomi yang lebih luas. "Tapi, memang nanti tidak sebesar dengan Jepang karena mungkin hanya menyangkut pembebasan atau penurunan tarif bea masuk," ujarnya.
Sementara itu, mengenai Persetujuan Indonesia Jepang mengenai Kemitraan Ekonomi (IJEPA), Anggito menjelaskan, berdasarkan kerangka kerja sama yang disepakati, terdapat dua skema penurunan tarif bea masuk, yaitu skema tarif preferensi umum dan skema user specific duty free schema (USDFS).
Dari persetujuan IJEPA, khususnya mengenai skema tarif preferensi umum, telah disepakati Indonesia menurunkan sekitar 35 persen pos tarif bea masuknya menjadi 0 persen mulai 1 Juli 2008, sedangkan Jepang menurunkan 80 persen pos tarifnya.
Indonesia akan menurunkan tarif bea masuk menjadi 0 persen secara bertahap sekitar 93 persen dari pos tarifnya selama 3 hingga 15 tahun dan untuk Jepang sekitar 90 persen dari pos tarifnya. Sisanya sebanyak sekitar 7persen dari pos tarif Indonesia bisa dipertahankan tarif bea masuknya sesuai dengan yang berlaku umum.
Sementara itu, mengenai USDFS, Anggito menjelaskan, itu merupakan skema pemberian fasilitas (penetapan) tarif bea masuk 0 persen atas impor bahan baku dari Jepang yang digunakan dalam kegiatan proses produksi oleh industri-industri tertentu yang telah disepakati dan industri-industri yang berbasis baja yang dikategorikan sebagai sektor pendorong.
"Sebagai kompensasi atas pembukaan akses pasar itu, Jepang memberikan bantuan yang terangkum dalam skema Manufacturing Industry Development Centre (MIDEC/Pusat Pengembangan Industri Manufaktur)," tuturnya.
MIDEC merupakan program bantuan teknis dari Jepang untuk pengembangan kapasitas bidang industri otomotif, welding, elektronik, tekstil, makanan dan minuman, baja, promosi ekspor impor, serta usaha kecil dan menengah.

